Tidak Semua yang Bisa Diukur Harus Dijadikan Angka

Ada sesuatu yang menarik dalam cara manusia memahami dunia. Ketika ingin mengetahui apakah seseorang berhasil belajar, kita mencari nilai. Ketika ingin mengetahui apakah sebuah program berhasil, kita mencari persentase. Ketika ingin mengetahui apakah sebuah penelitian menghasilkan perubahan, kita mencari angka sebelum dan sesudah perlakuan. Semakin banyak angka yang tersedia, sering kali semakin meyakinkan pula sebuah kesimpulan terlihat. 

Angka memang penting. Ia membantu manusia membaca pola, membandingkan keadaan, menemukan perubahan, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Tanpa angka, banyak hal dalam ilmu pengetahuan akan sulit dipahami. Namun, ada satu pertanyaan yang sesekali perlu diajukan: apakah semua hal yang bisa diukur memang harus dijadikan angka?

Barangkali jawabannya tidak selalu.

Bayangkan seorang guru bertanya kepada siswanya, “Apakah kalian senang belajar hari ini?” Seorang siswa mungkin menjawab, “Senang.” Siswa lain mungkin hanya tersenyum. Ada yang mengatakan, “Tadi saya baru mengerti kenapa air sungai bisa berubah warna.” Ada pula yang tidak mengatakan apa-apa, tetapi setelah pulang sekolah justru membawa pulang satu pertanyaan yang terus dipikirkannya.

Jika semua pengalaman itu harus diterjemahkan menjadi angka, mungkin akan muncul skor 4, 3, atau 2. Angka tersebut tentu berguna untuk kebutuhan tertentu. Namun, apakah angka itu benar-benar mampu menceritakan keseluruhan pengalaman mereka? Barangkali tidak. Sebab belajar bukan hanya tentang berapa poin yang diperoleh dalam sebuah tes. Belajar juga tentang rasa ingin tahu yang tiba-tiba muncul, keberanian bertanya, kemampuan melihat sesuatu dengan cara yang berbeda, atau bahkan perubahan kecil dalam cara seseorang memandang lingkungannya.

Dalam penelitian, pengukuran tentu memiliki tempat yang sangat penting. Nilai, skor, persentase, rata-rata, standar deviasi, korelasi, dan berbagai analisis statistik membantu peneliti memahami fenomena secara lebih objektif. Namun, angka sebenarnya bukanlah akhir dari penelitian. Ia hanyalah salah satu cara untuk membaca kenyataan.

Misalnya, sebuah penelitian menemukan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa meningkat dari rata-rata 68 menjadi 82 setelah suatu model pembelajaran diterapkan. Angka itu penting. Tetapi penelitian yang baik tidak berhenti pada kalimat bahwa nilainya meningkat sebesar 14 poin. Peneliti masih perlu bertanya: mengapa meningkat? Apa yang terjadi selama proses pembelajaran? Bagaimana siswa mengalami perubahan tersebut? Apakah mereka mulai berani mengemukakan pendapat? Apakah mereka mulai mempertanyakan informasi yang sebelumnya diterima begitu saja? Apakah mereka mampu menghubungkan persoalan di kelas dengan kehidupan nyata?

Di sinilah angka membutuhkan cerita. Angka dapat menunjukkan bahwa sesuatu berubah, tetapi belum tentu menjelaskan mengapa perubahan itu terjadi.

Di luar ruang penelitian, kehidupan bahkan jauh lebih rumit. Bagaimana seseorang mengukur rasa nyaman ketika duduk di bawah pohon pada sore hari? Berapa angka yang tepat untuk menggambarkan perasaan seorang anak ketika berhasil menemukan organisme kecil di sungai untuk pertama kalinya? Berapa skor yang dapat diberikan kepada seseorang yang dengan sukarela membersihkan lingkungan tempat tinggalnya meskipun tidak ada yang memberinya penghargaan?

Tentu saja, berbagai pengalaman tersebut dapat menjadi objek penelitian. Sebagian aspeknya bahkan dapat dioperasionalkan menjadi variabel dan diukur menggunakan instrumen tertentu. Namun, ada perbedaan antara mengukur sebagian aspek dari sebuah pengalaman dan menganggap angka sebagai keseluruhan pengalaman itu sendiri.

Di sinilah kita perlu berhati-hati. Sebuah angka adalah representasi. Ia bukan realitas itu sendiri.

Ada kecenderungan manusia untuk lebih memperhatikan sesuatu yang dapat dihitung. Lima belas publikasi terdengar lebih konkret daripada “banyak gagasan yang pernah dikembangkan”. Sembilan puluh persen terdengar lebih meyakinkan daripada “sebagian besar peserta mengalami perubahan positif”. Nilai 90 terasa lebih jelas daripada “siswa tersebut mulai percaya diri menyampaikan pendapatnya”.

Karena angka mudah dibandingkan, ia juga mudah dijadikan target. Ketika sesuatu sudah menjadi target, manusia kadang mulai mengejar angkanya, bukan lagi makna di baliknya.

Dalam pendidikan, seseorang bisa saja terlalu sibuk mengejar nilai sampai lupa bahwa tujuan belajar sebenarnya adalah memahami. Dalam penelitian, seseorang bisa terlalu sibuk mengejar signifikansi statistik sampai lupa bertanya apakah hasil penelitian itu benar-benar bermakna bagi kehidupan. Dalam pekerjaan, seseorang bisa terlalu sibuk menghitung produktivitas sampai lupa bahwa manusia yang bekerja di balik angka tersebut juga memiliki kelelahan, harapan, dan kehidupan yang perlu dihargai.

Mungkin masalahnya bukan pada angka. Masalahnya muncul ketika angka dijadikan satu-satunya cara untuk menentukan nilai sesuatu.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu memilih antara angka dan cerita. Keduanya justru dapat saling melengkapi. Angka membantu kita melihat pola, sementara cerita membantu kita memahami konteks. Angka membantu menunjukkan perubahan, sedangkan pengalaman membantu menjelaskan makna perubahan tersebut. Angka membantu kita bertanya, “Seberapa besar?” Cerita membantu kita bertanya, “Mengapa?”

Dan kadang-kadang, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apa arti semua itu bagi manusia?”

Penelitian yang baik tidak hanya menghasilkan tabel. Pendidikan yang baik tidak hanya menghasilkan nilai. Sebuah program yang baik tidak hanya menghasilkan persentase keberhasilan. Di balik semua itu ada manusia yang mengalami proses. Ada siswa yang awalnya takut berbicara kemudian mulai berani. Ada masyarakat yang awalnya tidak peduli kemudian mulai menjaga lingkungannya. Ada mahasiswa yang awalnya hanya mencari jawaban kemudian belajar mengajukan pertanyaan.

Perubahan seperti itu mungkin dapat diukur dalam beberapa aspek. Tetapi untuk benar-benar memahaminya, terkadang kita perlu melakukan sesuatu yang sederhana: mendengarkan.

Sains mengajarkan manusia untuk tidak mudah percaya tanpa bukti. Itu adalah sesuatu yang sangat berharga. Namun, sains juga mengajarkan bahwa sebuah fenomena dapat dipahami melalui berbagai pendekatan. Tidak semua pertanyaan memiliki jawaban dalam bentuk angka. Tidak semua kebenaran harus berupa tabel. Tidak semua perubahan harus berakhir pada grafik. Dan tidak semua sesuatu yang tidak mudah diukur berarti tidak penting.

Mungkin karena itu, angka sebaiknya ditempatkan pada tempatnya. Gunakan angka ketika angka memang dibutuhkan. Gunakan statistik ketika statistik membantu menjelaskan. Gunakan instrumen ketika pengukuran diperlukan. Tetapi ketika berhadapan dengan pengalaman manusia, pendidikan, lingkungan, dan kehidupan, jangan buru-buru menyederhanakannya hanya karena angka terasa lebih mudah dipahami.

Sebab yang dapat dihitung belum tentu paling penting. Dan yang sulit dihitung belum tentu tidak berarti.

Kadang-kadang, sebuah perubahan paling penting justru dimulai dari sesuatu yang belum memiliki angka: sebuah pertanyaan, sebuah kesadaran, sebuah rasa ingin tahu, atau sebuah kepedulian.

Atau mungkin, seorang anak yang pulang dari sekolah dengan cara pandang yang sedikit berbeda terhadap dunia.

Barangkali perubahan kecil semacam itulah yang seharusnya tidak pernah kita lupakan ketika kita terlalu sibuk menghitung.

Wallahu'alam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kenyang

es campur