Online, Tapi Tak Membalas: Sesederhana Itukah Etika Sebuah Chat?
Ada satu kebiasaan kecil di zaman komunikasi digital yang belakangan ini terasa semakin biasa: pesan dibaca nanti, dibalas nanti, atau bahkan tidak dibalas sama sekali.
Menariknya, kadang kita bisa melihat seseorang sedang
online. Statusnya aktif. Bahkan mungkin beberapa kali terlihat muncul dan
menghilang dari aplikasi. Tetapi pesan yang kita kirim tetap saja seperti
berjalan menuju ruang hampa.
Kadang sebuah pesan tidak membutuhkan jawaban panjang. Tidak
perlu langsung memberikan solusi. Tidak perlu pula mengetik paragraf yang
sempurna. Cukup dengan:
"Baik, saya sudah menerima
informasinya. Nanti saya kabari ya’.
Atau:
"Maaf, saya sedang ada
kegiatan. Nanti saya baca dan balas’.
Bahkan kalimat sederhana seperti:
"Baik, terima kasih. Saya cek
dulu ya’.
sudah cukup untuk membuat orang di seberang sana tahu bahwa
pesannya sampai dan dihargai. Sederhana sekali, bukan? Tetapi justru hal-hal sederhana seperti
inilah yang sering hilang dalam komunikasi kita.
>>> Jabatan Tidak Seharusnya Mengubah Cara Kita
Menghargai Orang
Ada kalanya seseorang menjadi semakin sibuk setelah
mendapatkan jabatan tertentu. Wajar. Tanggung jawabnya bertambah, urusannya
semakin banyak, dan waktunya semakin terbatas.
Tetapi menurut saya, jabatan seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan etika komunikasi. Menjadi pimpinan, pejabat, ketua, koordinator, atau seseorang yang memiliki banyak tanggung jawab bukan berarti pesan dari orang lain menjadi tidak penting. Tentu tidak semua pesan harus segera dijawab. Kita juga tidak mungkin menuntut seseorang untuk selalu tersedia selama dua puluh empat jam. Namun ada perbedaan antara ‘tidak sempat membalas’ dan ‘tidak merasa perlu membalas’. Yang pertama bisa dimaklumi. Yang kedua terkadang meninggalkan kesan yang berbeda. Terlebih jika pesan tersebut datang dari orang yang lebih tua, senior, atau seseorang yang selama ini memiliki hubungan baik dengan kita.
Bukan berarti usia otomatis membuat seseorang harus selalu
didahulukan. Bukan pula berarti orang yang lebih muda harus selalu tunduk
kepada yang lebih tua. Tetapi dalam budaya kita, menghormati orang yang lebih
tua adalah bagian dari etika sosial. Dan salah satu bentuk penghormatan itu
dapat diwujudkan melalui cara kita berkomunikasi.
>>> Bukankah Membalas Itu Hanya Butuh Beberapa
Detik?
Mungkin di sinilah letak paradoksnya. Kita hidup di zaman
ketika teknologi membuat komunikasi begitu cepat. Satu pesan dapat dikirim
dalam hitungan detik. Tetapi justru karena semuanya serba cepat, kita kadang
lupa bahwa di balik sebuah pesan ada manusia yang sedang menunggu respons. Tidak
selalu menunggu jawaban. Kadang hanya menunggu kepastian. "Apakah pesannya
sudah diterima?", "Apakah beliau sudah membaca?", "Apakah
saya perlu menunggu atau mencari cara lain?". Satu kalimat pendek
sebenarnya bisa menghilangkan banyak ketidakpastian. Karena itu, menurut saya,
membalas chat bukan semata-mata persoalan teknologi. Ini adalah persoalan etika
dan empati. Kita tidak harus membalas semua pesan seketika. Tetapi kalau belum
bisa menjawab, kita bisa mengatakan bahwa kita belum bisa menjawab. Itulah
bedanya antara ‘slow response’ dan ‘silent
response’. Slow response masih memberikan kepastian.Silent response membuat
orang menebak-nebak.
>>> Kita Tidak Pernah Tahu Apa yang Dirasakan Orang
di Seberang Layar
Mungkin bagi pengirim, pesan itu penting. Mungkin ia sedang
membutuhkan keputusan.
Mungkin ia sedang menunggu persetujuan. Mungkin ia sudah
berpikir berkali-kali sebelum akhirnya memberanikan diri mengirim pesan. Atau
mungkin sesederhana ia sedang berusaha menjaga komunikasi yang baik. Ketika
tidak ada respons sama sekali, kita tidak pernah tahu bagaimana pesan itu
diterima oleh orang lain. Karena itulah etika komunikasi digital seharusnya
tidak berhenti pada kemampuan menggunakan aplikasi. Kita juga perlu belajar membaca
situasi, memahami perasaan orang lain, dan memberikan respons yang pantas.
Teknologi membuat kita semakin mudah terhubung. Tetapi terhubung
belum tentu berarti berkomunikasi. Dan online belum tentu berarti tersedia. Namun
ketika kita memang sudah melihat sebuah pesan dan belum dapat memberikan
jawaban, satu kalimat sederhana sering kali sudah cukup untuk menunjukkan bahwa
kita menghargai orang yang mengirimkannya.
>> Tidak Perlu Selalu Cepat, Tetapi Sebaiknya Tetap
Beretika
Mungkin kita memang perlu belajar berdamai dengan kenyataan
bahwa tidak semua chat akan mendapat balasan cepat. Setiap orang memiliki
prioritas. Setiap orang memiliki kehidupan yang tidak kita ketahui seluruhnya. Maka, kita tidak perlu terlalu cepat
tersinggung ketika seseorang terlambat membalas. Tetapi di sisi lain, kita juga
perlu bertanya kepada diri sendiri: Ketika orang lain menghubungi kita,
sudahkah kita memperlakukannya sebagaimana kita ingin diperlakukan?
Sebab pada akhirnya, etika komunikasi bukan tentang siapa yang lebih sibuk, siapa yang lebih tinggi jabatannya, atau siapa yang lebih penting. Etika adalah tentang bagaimana kita memperlakukan manusia lain. Kadang cukup dengan satu kalimat. Baik, nanti saya kabari. Sesederhana itu. Tetapi dari kalimat yang sederhana itu, orang lain tahu bahwa dirinya dilihat, didengar, dan dihargai. Dan mungkin, di tengah komunikasi digital yang semakin cepat tetapi semakin dingin, hal-hal kecil seperti itulah yang justru perlu kita pertahankan.
plot twist!
dan saya menulis ini dari kejadian saya baru banget dicuekin, wkwkwk, sesibuk apa gitu ya, sesibuk ituu. namun karakter seseorang juga sangat mempengaruhi etika berkehidupan, yah mau gimana ga enak banget liat chat masih belum diread wuhaa, padahal sedang in diskusi hal penting, ya sudahlah ya. mungkin ini bagian dari uji kesabaran, bisa jadi dari amalan ini bisa menambah sekian sedikit persen timbangan kebaikan kita kelak di yaumul hisab. gitu aja mikirnya ya biar ga overthinking ya.
Komentar