Postingan

Belajar Tenang dari Tanaman yang Tidak Pernah Tumbuh Terburu-buru

Gambar
Ada sesuatu yang menarik dari tanaman. Ia tidak pernah tampak terburu-buru. Pagi datang, ia tetap di tempatnya. Matahari naik, ia tetap tumbuh dengan caranya sendiri. Ketika hujan turun, ia menerima air tanpa pernah merasa harus segera menjadi lebih besar. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan sering kali perubahan pada tanaman begitu kecil sampai-sampai kita tidak menyadarinya. Tiba-tiba suatu pagi muncul daun baru, tunas kecil di ujung batang, atau bunga yang sebelumnya belum ada. Kita kemudian menyadari bahwa selama ini tanaman itu ternyata terus tumbuh, hanya saja pertumbuhannya tidak selalu bisa kita lihat setiap hari. Manusia justru sering hidup dengan cara yang berbeda. Kita ingin banyak hal terjadi lebih cepat. Baru mulai belajar, sudah ingin mahir. Baru memulai pekerjaan, ingin segera mendapatkan hasil. Baru menulis satu artikel, sudah ingin melihatnya terbit. Baru mengajukan penelitian, ingin segera mendapatkan kabar. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering ...

Rumah yang Berantakan berbanding lurus dengan kesibukan, wajarkah

Gambar
Ada satu pemandangan yang hampir pasti kita temui di rumah mana pun yang benar-benar dihuni: sandal yang tidak berpasangan di depan pintu, gelas setengah isi di meja, dan jaket yang menggantung di sandaran kursi, bukan di lemari. Kita sering menyebutnya berantakan. Tapi coba lihat sekali lagi. Benda-benda itu sebenarnya sedang bercerita. Jejak yang Tidak Disengaja Sandal kecil yang terlempar di teras berarti ada anak yang tadi berlari masuk, terburu-buru menceritakan sesuatu yang menurutnya paling penting sedunia. Gelas di atas rangkang (sejenis tempat duduk dari bambu) di teras berarti seseorang sempat duduk lama, tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa minum. Buku yang terbuka tertelungkup di sofa berarti ada yang berhenti membaca karena dipanggil makan, dan berniat kembali sebentar lagi. Tidak ada satu pun dari benda-benda itu yang diletakkan dengan sengaja. Justru di situlah nilainya. Rumah yang tertata sempurna seperti etalase: indah dilihat, tetapi terasa belum ada yang perna...

AI Bisa Membantu Kita Menulis, tetapi Siapa yang Membantu Kita Berpikir?

Gambar
Ada masa ketika menulis terasa seperti pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu. Membuka laptop, menatap halaman kosong, mengetik beberapa kalimat, lalu menghapusnya lagi karena terasa tidak pas. Setelah itu mencoba menulis ulang, mencari referensi, menyusun paragraf, dan berkali-kali membaca kembali apa yang sudah ditulis.  Sekarang semuanya terasa jauh lebih mudah. Kita bisa meminta bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk membuat kerangka tulisan, menyusun paragraf, mencari ide, memperbaiki bahasa, bahkan mengubah tulisan yang terlalu kaku menjadi lebih enak dibaca. Dalam beberapa detik, halaman yang tadinya kosong bisa dipenuhi beberapa paragraf. Bagi banyak orang, ini tentu menyenangkan. Pekerjaan menjadi lebih cepat. Ide yang semula terasa sulit dituangkan menjadi lebih mudah disusun. Bahkan bagi seorang dosen yang sehari-hari berhadapan dengan berbagai pekerjaan akademik, kehadiran AI terasa seperti memiliki seorang asisten yang selalu siap membantu. ...

Online, Tapi Tak Membalas chat, sibuk atau sok sibuk

 Ada satu kebiasaan kecil di zaman komunikasi digital yang belakangan ini terasa semakin biasa: pesan dibaca nanti, dibalas nanti, atau bahkan tidak dibalas sama sekali. Menariknya, kadang kita bisa melihat seseorang sedang online. Statusnya aktif. Bahkan mungkin beberapa kali terlihat muncul dan menghilang dari aplikasi. Tetapi pesan yang kita kirim tetap saja seperti berjalan menuju ruang hampa. Tentu, kita memahami bahwa setiap orang memiliki kesibukan. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, rapat yang harus diikuti, mahasiswa yang harus dilayani, keluarga yang harus diperhatikan, dan begitu banyak urusan lain yang tidak selalu terlihat oleh orang lain. Jadi, persoalannya sebenarnya bukan selalu tentang: seberapa cepat seseorang membalas chat. Persoalannya adalah tentang: bagaimana kita menghargai orang lain dalam komunikasi . Kadang sebuah pesan tidak membutuhkan jawaban panjang. Tidak perlu langsung memberikan solusi. Tidak perlu pula mengetik paragraf yang sempurna. Cuk...

Tidak Semua yang Bisa Diukur Harus Dijadikan Angka

Ada sesuatu yang menarik dalam cara manusia memahami dunia. Ketika ingin mengetahui apakah seseorang berhasil belajar, kita mencari nilai. Ketika ingin mengetahui apakah sebuah program berhasil, kita mencari persentase. Ketika ingin mengetahui apakah sebuah penelitian menghasilkan perubahan, kita mencari angka sebelum dan sesudah perlakuan. Semakin banyak angka yang tersedia, sering kali semakin meyakinkan pula sebuah kesimpulan terlihat.  Angka memang penting. Ia membantu manusia membaca pola, membandingkan keadaan, menemukan perubahan, dan mengambil keputusan dengan lebih hati-hati. Tanpa angka, banyak hal dalam ilmu pengetahuan akan sulit dipahami. Namun, ada satu pertanyaan yang sesekali perlu diajukan: apakah semua hal yang bisa diukur memang harus dijadikan angka? Barangkali jawabannya tidak selalu. Bayangkan seorang guru bertanya kepada siswanya, “Apakah kalian senang belajar hari ini?” Seorang siswa mungkin menjawab, “Senang.” Siswa lain mungkin hanya tersenyum. Ada yang me...

Dampak Mindfulness dan Kesejahteraan Psikologis dari Hobi Berkebun

Gambar
Tanaman dan suasana hati Kita mungkin pernah merasakan sendiri bahwa berada di tempat yang banyak tanaman terasa berbeda dengan berada di tempat yang gersang dan penuh beton. Warna hijau daun, bunga yang bermekaran, udara yang lebih segar, dan suasana alami dapat membuat lingkungan terasa lebih menyenangkan. Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang merawat tanaman. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat tanaman yang sebelumnya kecil kemudian tumbuh besar, mengeluarkan daun baru, atau akhirnya berbunga. "Senang sekali melihat bunga ini akhirnya mekar." Kalimat sederhana seperti itu sebenarnya menunjukkan adanya hubungan emosional antara seseorang dengan tanaman yang dirawatnya. Berkebun sebagai waktu untuk berhenti sejenak Kehidupan sehari-hari sering membuat seseorang terus berpikir. Memikirkan pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, keuangan, keluarga, dan berbagai persoalan lainnya. Kadang-kadang tubuh memang sedang duduk, tetapi pikiran tetap berjalan ke mana-mana. Mera...

Senandung Perjuangan Jabfung: Menikmati Proses di Tengah Pasang Surut Aturan

Gambar
Tulisan ini sesungguhnya adalah suatu motivasi untuk diri saya sendiri; seorang pejuang LK, kaget gaa. tp ya begitulah. its been a long time.  💦💦💦           Menjalani profesi sebagai dosen bukan cuma tentang berdiri di depan kelas, mengajar, dan membagikan ilmu. Di balik kesibukan tridharma; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, ada satu "permainan papan" panjang yang harus dimainkan setiap akademisi: memanjat tangga jabatan fungsional (jabfung).   Mulai dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, hingga puncak dinamika menjadi Guru Besar (Profesor), jalan yang ditempuh setiap dosen memiliki cerita uniknya masing-masing. Ada yang jalannya semulus jalan tol tanpa hambatan, tapi tak sedikit pula yang jalurnya penuh gravel, tikungan tajam, hingga rest area bertahun-tahun. Dinamika Jabfung: Antara Usaha, Keberuntungan, dan Terjangan Regulasi  Kalau diperhatikan di lingkungan kampus, perjalanan karier dosen sering kali seperti m...