Bukan Kampus Megah, Tapi Ruang Penempa Jiwa Juang
Lampu ruang kelas sesekali berkedip, lalu padam. Suara kipas angin menderu pas-pasan, bersaing dengan riuh rendah suara hujan yang menghantam atap seng. Di dalam kelas, puluhan pasang mata tetap lurus menatap papan tulis yang sebagian permukaannya sudah mengelupas. Beginilah potret sehari-hari di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berdiri di wilayah konon katanya 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Jauh dari gemerlap kampus metropolitan dengan gedung megah ber-AC dan wifi super cepat, atmosfer pembelajaran di sini punya "bahan bakar" yang berbeda: harapan dan tekad bulat. Ketika Keterbatasan Menjadi Menu Harian Bicara soal fasilitas, daftarnya bisa sangat panjang jika ingin mengeluh. Laboratorium Sains hanya berisi unit-unit tua yang harus dipakai bergantian, hanya sebagai laboratorium dasar. Perpustakaan kampus mungkin hanya memiliki beberapa rak buku usang, dan sinyal internet yang sangat terbatas dengan kecepatan yang tidak secepat kita menjawab 1+1=2. Namun...