Senandung Perjuangan Jabfung: Menikmati Proses di Tengah Pasang Surut Aturan
Tulisan ini sesungguhnya adalah suatu motivasi untuk diri saya sendiri; seorang pejuang LK, kaget gaa. tp ya begitulah. its been a long time.
💦💦💦
Menjalani profesi sebagai dosen bukan cuma tentang berdiri di depan kelas, mengajar, dan membagikan ilmu. Di balik kesibukan tridharma; pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, ada satu "permainan papan" panjang yang harus dimainkan setiap akademisi: memanjat tangga jabatan fungsional (jabfung). Mulai dari Asisten Ahli, Lektor, Lektor Kepala, hingga puncak dinamika menjadi Guru Besar (Profesor), jalan yang ditempuh setiap dosen memiliki cerita uniknya masing-masing. Ada yang jalannya semulus jalan tol tanpa hambatan, tapi tak sedikit pula yang jalurnya penuh gravel, tikungan tajam, hingga rest area bertahun-tahun.
Dinamika Jabfung: Antara Usaha, Keberuntungan, dan Terjangan Regulasi
Kalau diperhatikan di lingkungan kampus, perjalanan karier dosen sering kali seperti melihat dua jalur yang berbeda:
👉Jalur "Fast Track" Mulus Bak Jalan Tol: Ada kawan dosen yang rasanya baru kemarin selesai urus Asisten Ahli, tak lama kemudian melesat ke Lektor, dan dengan gesit langsung menyapa gelar Lektor Kepala. Semua berkas pas, jurnal langsung accepted di penerbit ternama, dan linimasa pengajuannya selalu 'pas' dengan periode transisi aturan.
👉Jalur "Zonasi Regulasi": Di sisi lain, banyak dosen yang merasa seperti sedang berlari mengejar garis finis yang selalu bergeser. Setiap kali berkas sudah rapi dan Angka Kredit (PAK) dirasa cukup, tiba-tiba muncul regulasi atau sistem pengajuan baru. Alhasil, syarat yang tadinya terpenuhi bisa berubah menjadi "belum memenuhi syarat" (BMS) karena aturan main yang disesuaikan.
Ketika Berada di Posisi "Tertahan"
Tertahan di jenjang Lektor setelah beberapa kali mengajukan berkas tentu mendatangkan perasaan yang campur aduk. Ada rasa lelah ketika harus membedah kembali berkas-berkas lama, menata ulang portofolio, dan menyesuaikan perhitungan akumulasi PAK dengan sistem aplikasi yang terus bertransformasi.
Apalagi ketika perubahan regulasi membuat hitung-hitungan yang sebelumnya sudah aman menjadi perlu penyesuaian ulang. Rasanya seperti sudah hampir sampai di depan pintu, tapi kuncinya mendadak diganti. Namun, di balik kerumitan sistem dan perubahan regulasi, berada di posisi ini sering kali memberikan momen untuk berefleksi secara jujur pada diri sendiri:
💟Mengakui Area yang Perlu Digenjot: Perubahan regulasi memang menjadi faktor eksternal yang signifikan. Namun, pengakuan jujur bahwa publikasi ilmiah masih minim adalah langkah awal yang sangat suportif untuk diri sendiri. Dalam regulasi baru mana pun, publikasi artikel ilmiah terutama di jurnal bereputasi selalu menjadi "mata uang" utama untuk melompati pagar Lektor Kepala.
💟Bukan Berarti Tidak Berprestasi: Tertahan di Lektor tidak membuat kualitas pengabdian dan pengajaran seorang dosen berkurang. Banyak dosen yang energinya tercurah habis untuk membimbing mahasiswa, mengurus kegiatan program studi, atau aktif di pengabdian masyarakat, sehingga waktu untuk fokus menulis artikel ilmiah menjadi tersita.
💟Memahami Regulasi Baru sebagai Peta Baru: Meski perubahan aturan terasa melelahkan, memahami kriteria regulasi terbaru secara detail justru memberikan kejelasan target. Kita tidak lagi menebak-nebak, melainkan tahu persis artikel tipe apa dan berapa jumlah karya yang harus disiapkan.
Menyusun Strategi Baru tanpa Kehilangan Semangat
Jujurly, di balik rasa gemush (baca: jengkel) dan lelah menghadapi aturan yang terus berubah, menyerah jelas bukan pilihan. Daripada energi habis buat meratapi sistem, lebih baik kita tata ulang amunisi dan atur ritme permainan. Anggap saja ini jeda untuk reset strategi. yang pasti harus rajin memanfaatkan waktu sebermakna mungkin di setiap menitnya.
💟Beberapa langkah kecil berikut bisa mulai ditata kembali:
👉Fokus pada Portofolio Publikasi: Sisihkan waktu khusus (writing time).
👉Pahami Gap Berkas: Minta masukan dari Tim Penilai Angka Kredit kampus atau rekan yang baru saja lolos di regulasi terbaru. Identifikasi secara detail bagian mana dari PAK akumulatif yang masih membutuhkan "tambal sulam".
💦💦💦
Perjalanan setiap dosen menuju puncaknya punya ritme masing-masing. Ada yang cepat karena momennya tepat, ada yang lambat karena harus menata banyak hal di sepanjang jalan. Tertahan sejenak bukan berarti berhenti, melainkan kesempatan untuk mengumpulkan amunisi publikasi yang lebih solid agar saat melangkah nanti, hasilnya jauh lebih kokoh. yuk tetap semangat. 💞
Komentar