Dampak Mindfulness dan Kesejahteraan Psikologis dari Hobi Berkebun
Tanaman dan suasana hati
Kita mungkin pernah merasakan sendiri bahwa berada di tempat
yang banyak tanaman terasa berbeda dengan berada di tempat yang gersang dan
penuh beton. Warna hijau daun, bunga yang bermekaran, udara yang lebih segar,
dan suasana alami dapat membuat lingkungan terasa lebih menyenangkan.
Hal yang sama dapat terjadi ketika seseorang merawat tanaman. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat tanaman yang sebelumnya kecil kemudian tumbuh besar, mengeluarkan daun baru, atau akhirnya berbunga. "Senang sekali melihat bunga ini akhirnya mekar." Kalimat sederhana seperti itu sebenarnya menunjukkan adanya hubungan emosional antara seseorang dengan tanaman yang dirawatnya.
Berkebun sebagai waktu untuk berhenti sejenak
Kehidupan sehari-hari sering membuat seseorang terus berpikir. Memikirkan pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, keuangan, keluarga, dan berbagai persoalan lainnya. Kadang-kadang tubuh memang sedang duduk, tetapi pikiran tetap berjalan ke mana-mana.
Merawat tanaman dapat menjadi salah satu kegiatan yang
membuat seseorang berhenti sejenak dari berbagai pikiran tersebut. Ketika
tangan sibuk menyiram tanaman, menggemburkan tanah, atau membersihkan daun,
perhatian kita perlahan beralih kepada apa yang sedang dilakukan.
Mungkin masalah yang sedang dipikirkan belum selesai. Tetapi setidaknya, kita memberikan kesempatan kepada pikiran untuk beristirahat sebentar. Di sinilah kegiatan berkebun menjadi menarik. Ia tidak membutuhkan biaya yang besar dan tidak harus dilakukan dalam waktu yang lama. Bahkan beberapa pot tanaman di depan rumah sudah cukup untuk menciptakan ruang kecil bagi seseorang untuk menikmati suasana yang berbeda.
Tanaman juga mengajarkan
kesabaran
Tanaman tidak tumbuh dalam satu
malam. Kita menyiramnya hari ini, tetapi tidak langsung mendapatkan bunga esok
pagi. Kita memberikan pupuk, merawat tanah, membersihkan gulma, dan menunggu.
Dari proses tersebut sebenarnya
ada pelajaran sederhana tentang kesabaran. Seseorang yang suka berkebun mungkin
sangat memahami hal ini. Ada kalanya tanaman tumbuh subur, tetapi ada juga
tanaman yang tiba-tiba layu atau terserang hama. Ada tanaman yang kita rawat
berbulan-bulan tetapi ternyata tidak juga berbunga.
Namun, kegiatan merawat tetap
dilakukan.
Dalam kehidupan sehari-hari,
sikap seperti ini juga penting. Tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan
cepat. Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu. Tanaman seolah mengingatkan
kita bahwa pertumbuhan membutuhkan proses.
Halaman rumah sebagai ruang
kecil untuk kesehatan mental
Selama ini kita sering
membicarakan kesehatan mental dalam konteks yang cukup serius. Padahal, menjaga
kesehatan mental juga dapat dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil dalam
kehidupan sehari-hari; Mempunyai waktu untuk diri sendiri, menikmati udara
pagi, berjalan sebentar di halaman, melakukan aktivitas yang disukai, atau
merawat tanaman bisa menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan diri.
Bagi yang memiliki pekarangan
rumah, halaman sebenarnya dapat menjadi ruang sederhana untuk melakukan
aktivitas tersebut. Tidak perlu membuat taman yang besar. Beberapa pot bunga,
tanaman herbal, tanaman buah, atau tanaman hias sudah cukup. Yang penting
adalah kegiatan tersebut memberikan rasa senang dan membuat seseorang merasa
nyaman.
Bahkan kegiatan seperti
memindahkan tanaman dari satu pot ke pot yang lebih besar bisa menjadi
aktivitas yang menyenangkan. Ada proses melihat, menyentuh tanah, mencium aroma
daun, sesederhana itu tapi sangat menarik, coba deh.
Bukan berarti tanaman
menyelesaikan semua masalah
Namun, kita juga perlu memahami
bahwa berkebun bukanlah obat untuk semua persoalan kesehatan mental.
Seseorang yang sedang mengalami
masalah psikologis yang berat tentu membutuhkan bantuan yang tepat dari tenaga
profesional. Berkebun hanya dapat dipandang sebagai salah satu aktivitas yang
berpotensi mendukung kesejahteraan dan kenyamanan psikologis.
Justru yang menarik adalah
sifatnya yang sederhana.
Kita tidak selalu membutuhkan
sesuatu yang mahal untuk membuat diri merasa lebih baik. Kadang-kadang kita
hanya membutuhkan waktu sebentar untuk keluar dari rutinitas, menghirup udara
pagi, menyentuh tanah, melihat daun yang hijau, dan menyadari bahwa sesuatu
yang kita rawat ternyata terus tumbuh.
Dari tanaman kita belajar
merawat kehidupan
Pada akhirnya, mungkin ada
hubungan yang menarik antara merawat tanaman dan merawat diri sendiri.
Ketika kita merawat tanaman, kita
belajar memberikan perhatian. Kita belajar sabar. Kita belajar menerima bahwa
tidak semua tanaman tumbuh sesuai harapan. Ada yang berhasil, ada yang mati,
ada yang harus dipindahkan, dan ada yang membutuhkan perawatan lebih banyak.
Begitu juga dengan kehidupan.
Tidak setiap hari harus sempurna.
Tidak semua persoalan harus selesai hari ini. Ada kalanya kita hanya perlu
berhenti sebentar, mengambil napas, kemudian melanjutkan kembali aktivitas.
Mungkin itulah salah satu alasan
mengapa kegiatan sederhana seperti berkebun terasa menyenangkan bagi banyak
ibu.
Tanaman memang membutuhkan kita
untuk dirawat. Tetapi dalam proses merawat tanaman, boleh jadi justru diri kita
sendiri yang ikut dirawat.
π·πΉπΊππΏπ±πππΏπ
Komentar