Kadang Image Kita Rusak Bukan karena Kita

Ada satu hal yang baru saya sadari belakangan ini. Kadang-kadang kita bisa terlihat tidak menepati janji, tidak bertanggung jawab, atau bahkan tidak bisa dipercaya, bukan karena kita memang melakukan kesalahan. Bisa jadi, kesan itu muncul karena orang lain yang berada dalam hubungan dengan kita tidak melakukan bagiannya.

 Sederhana sebenarnya. Tetapi ketika kita berada di tengah-tengahnya, rasanya cukup mengganggu pikiran.

 Pagi itu, seseorang meminta tolong kepada saya untuk memesan kue melalui seorang teman. Saya kemudian menyampaikan pesan tersebut kepada teman saya. Kue dipesan dan disiapkan. Karena saya yang menjadi penghubung antara orang yang memesan dan teman yang membuat kue, secara tidak langsung saya merasa ikut bertanggung jawab.

 Saya lalu berjanji kepada teman saya akan mengambil kue tersebut sekitar pukul sepuluh. Kepada orang yang memesan, saya juga sudah menyampaikan bahwa kue bisa diambil pada pukul sepuluh. Bagi saya, persoalannya sederhana. Jam sepuluh berarti jam sepuluh.

 Saya sudah membayangkan urutannya. Saya mengambil kue, kemudian kue tersebut segera diambil oleh orang yang memesan. Semuanya selesai dengan baik. Tidak ada yang harus menunggu terlalu lama dan tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

 Tetapi ternyata waktu berjalan berbeda dari yang saya bayangkan.

 Pukul sepuluh lewat.  Kue sudah tersedia.  Teman saya mungkin sudah menunggu.

 Sementara orang yang memesan belum juga datang.

 Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Belum ada kabar. Pukul sepuluh lewat tiga puluh menit, orang tersebut masih belum menuju lokasi.  Sebenarnya saya tahu, yang terlambat bukan saya.

 Saya sudah menyampaikan waktunya. Saya sudah mengingatkan. Saya sudah berusaha memenuhi janji kepada teman saya. Tetapi anehnya, tetap saja muncul rasa tidak nyaman dalam diri saya.

 Ada semacam perasaan, jangan-jangan teman saya menganggap saya tidak serius. Jangan-jangan dia berpikir saya yang tidak menepati janji. Padahal saya sendiri sedang menunggu orang lain yang belum datang. Di situlah saya kemudian berpikir tentang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar urusan kue. 

Ternyata image kita di mata orang lain tidak selalu sepenuhnya berada di tangan kita. Ada kalanya reputasi kita ikut terbentuk dari perilaku orang-orang yang berhubungan dengan kita.

 Kita bisa saja sudah berhati-hati dalam berbicara, tetapi orang lain menyampaikan sesuatu yang berbeda. Kita sudah berusaha tepat waktu, tetapi orang yang kita tunggu datang terlambat. Kita sudah memberikan informasi dengan benar, tetapi orang lain lupa. Kita sudah berusaha menyelesaikan sebuah urusan dengan baik, tetapi pihak lain tidak melakukan bagiannya.  Dan karena kita berada di tengah-tengah hubungan tersebut, kita ikut terkena dampaknya. Ini mungkin terdengar sepele. Tetapi bagi orang yang terbiasa menjaga janji dan merasa tidak enak jika membuat orang lain menunggu, situasi seperti itu bisa cukup melelahkan secara mental.   

Bukan karena masalahnya besar. Justru karena masalahnya kecil, tetapi menyentuh sesuatu yang bagi kita penting: kepercayaan.

Saya termasuk orang yang sering merasa tidak nyaman kalau sudah mengatakan sesuatu kepada orang lain. Kalau sudah bilang jam sepuluh, sebisa mungkin saya akan berusaha jam sepuluh. Kalau sudah berjanji akan membawa sesuatu, saya akan berusaha membawanya. Bukan karena saya selalu berhasil menjadi orang yang paling tepat waktu atau paling sempurna, tetapi karena saya merasa janji kecil sekalipun tetap membawa nama kita.

 Mungkin bagi sebagian orang, terlambat tiga puluh menit bukan masalah besar. Tetapi bagi orang lain, tiga puluh menit bisa berarti sebuah janji yang tidak terpenuhi. Perbedaan cara memandang waktu seperti ini kadang membuat kita berada dalam posisi yang serba salah. Apalagi ketika kita menjadi perantara. Menjadi perantara sebenarnya bukan pekerjaan yang selalu mudah. Kita menyampaikan pesan dari satu orang kepada orang lain. Kita membantu menghubungkan kepentingan dua pihak. Ketika semuanya berjalan lancar, tidak ada masalah. Tetapi ketika salah satu pihak terlambat, lupa, berubah pikiran, atau tidak melakukan apa yang sudah disepakati, orang yang berada di tengah sering kali ikut merasakan tekanan. Padahal belum tentu ia melakukan kesalahan apa pun.  

Saya kira pengalaman seperti ini tidak hanya terjadi dalam urusan memesan kue.

Dalam pekerjaan, misalnya, kita bisa saja sudah menyampaikan pesan kepada seseorang bahwa sebuah dokumen dibutuhkan hari ini. Kita sudah mengingatkan berkali-kali. Tetapi dokumen tersebut belum juga diberikan. Ketika pihak lain bertanya, kita yang merasa tidak enak karena seolah-olah kita yang tidak menyelesaikan pekerjaan.

Dalam pertemanan juga bisa terjadi. Kita mengajak seseorang datang ke sebuah acara dan sudah mengatakan bahwa acara dimulai pukul tertentu. Tetapi orang yang kita ajak datang terlambat. Orang lain yang melihat hanya tahu bahwa kita datang bersama-sama. Kesan yang muncul akhirnya bisa saja kita dianggap sebagai orang yang tidak menghargai waktu.

Di lingkungan kerja, persoalannya bahkan bisa lebih rumit. Kita bertanggung jawab atas sebuah bagian pekerjaan, tetapi pekerjaan tersebut bergantung pada orang lain. Ketika bagian orang lain terlambat, pekerjaan kita ikut terlambat. Namun dari luar, yang terlihat hanya hasil akhirnya. 

Di sinilah kita kadang belajar bahwa menjaga image atau reputasi bukan hanya tentang bagaimana kita bertindak, tetapi juga tentang bagaimana orang lain bertindak ketika mereka berhubungan dengan kita.

 Tentu saja, bukan berarti kita harus terus-menerus menyalahkan orang lain. Ada bagian yang memang menjadi tanggung jawab kita untuk dikomunikasikan dengan jelas. Jika kita menjadi penghubung, kita perlu memastikan pesan tersampaikan. Jika ada perubahan, kita perlu memberitahukan. Jika ada risiko keterlambatan, kita perlu mengantisipasi. Tetapi setelah bagian kita selesai dilakukan, kita juga perlu belajar melepaskan sesuatu yang memang berada di luar kendali kita. Barangkali ini bagian tersulitnya.

Kita sering merasa harus bertanggung jawab atas segala sesuatu hanya karena kita terlibat di dalamnya. Padahal terlibat bukan berarti mengendalikan semuanya.

Saya sudah menyampaikan pukul sepuluh. Saya sudah berjanji kepada teman saya untuk mengambilnya. Setelah itu, keputusan orang lain untuk datang atau tidak datang bukan lagi sepenuhnya berada dalam kendali saya (harusnya begitu ya). Mungkin saya tetap bisa mengingatkan. Mungkin saya bisa meminta kepastian. Tetapi saya tidak bisa berjalan menggantikan kaki orang lain. Kesadaran sederhana seperti ini ternyata cukup penting. Sebab kalau tidak, kita akan terus membawa kesalahan orang lain ke dalam pikiran sendiri.

 Orang lain terlambat, kita yang gelisah. Orang lain lupa, kita yang merasa bersalah. Orang lain tidak memberikan kabar, kita yang sibuk memikirkan apa yang mungkin dipikirkan orang lain tentang kita. Lama-lama melelahkan. Padahal tidak semua ketidaknyamanan harus kita miliki. Ada bagian yang memang harus kita selesaikan, tetapi ada juga bagian yang harus kita kembalikan kepada pemiliknya.

Saya juga belajar bahwa menjaga nama baik tidak selalu berarti memastikan semua orang puas dengan kita. Ada batas antara bertanggung jawab dan mengambil alih tanggung jawab orang lain. Kita tetap perlu menjadi orang yang bisa dipercaya. Tetap perlu menjaga komunikasi. Tetap perlu menepati janji sebisa mungkin. Tetapi kita juga perlu memahami bahwa reputasi kita tidak akan pernah sepenuhnya berada di tangan kita.

Orang lain bisa salah memahami kita. Orang lain bisa terlambat ketika berurusan dengan kita. Orang lain bisa lupa melakukan sesuatu. Bahkan orang lain bisa membuat keputusan yang kemudian ikut memengaruhi cara seseorang memandang kita. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa dari sisi kita, kita sudah melakukan bagian kita dengan baik.

 Selebihnya, kita perlu belajar tenang.

 Mungkin hari itu saya memang kesal karena sampai pukul sepuluh lewat tiga puluh, kue belum juga diambil. Saya merasa tidak enak kepada teman yang sudah menyiapkan kue. Ada sedikit kekhawatiran bahwa saya dianggap tidak menepati janji. Tetapi setelah dipikir-pikir lagi, saya juga belajar satu hal kecil dari kejadian itu. Tidak semua hal yang membuat kita terlihat kurang baik adalah kesalahan kita. Dan tidak semua image buruk harus kita perbaiki dengan menjelaskan panjang lebar. Kadang cukup dengan terus menunjukkan bahwa kita memang orang yang bisa dipercaya.

Hari ini mungkin orang lain melihat kita dari sebuah kejadian kecil. Besok, mereka akan melihat kita dari banyak kejadian lainnya. Pada akhirnya, karakter seseorang tidak dibentuk oleh satu kejadian, tetapi oleh pola perilaku yang terus berulang. 

Jadi, mungkin saya tidak perlu terlalu lama merasa bersalah atas sesuatu yang bukan bagian saya. Saya sudah mengatakan pukul sepuluh. Saya sudah berusaha menepati janji. Saya sudah menunggu. Selebihnya, biarlah menjadi tanggung jawab orang yang memang memiliki bagian di dalamnya.

Sebab ternyata, menjaga nama baik juga berarti belajar membedakan mana yang harus kita pertanggungjawabkan dan mana yang harus kita lepaskan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kenyang

es campur