Rumah yang Berantakan Kadang Menandakan Hidup yang Sedang Berjalan
Ada satu pemandangan yang hampir pasti kita temui di rumah mana pun yang benar-benar dihuni: sandal yang tidak berpasangan di depan pintu, gelas setengah isi di meja, dan jaket yang menggantung di sandaran kursi, bukan di lemari. Kita sering menyebutnya berantakan. Tapi coba lihat sekali lagi. Benda-benda itu sebenarnya sedang bercerita.
Jejak
yang Tidak Disengaja
Sandal kecil yang terlempar di teras berarti ada anak yang tadi berlari
masuk, terburu-buru menceritakan sesuatu yang menurutnya paling penting
sedunia. Gelas di atas rangkang (sejenis tempat duduk dari bambu) di teras
berarti seseorang sempat duduk lama, tenggelam dalam pekerjaan sampai lupa
minum. Buku yang terbuka tertelungkup di sofa berarti ada yang berhenti membaca
karena dipanggil makan, dan berniat kembali sebentar lagi.
Tidak ada satu pun dari benda-benda itu yang diletakkan dengan sengaja.
Justru di situlah nilainya. Rumah yang tertata sempurna seperti etalase: indah
dilihat, tetapi terasa belum ada yang pernah benar-benar tinggal di dalamnya.
Hidup
Meninggalkan Sisa
Coba ingat rumah nenek atau rumah masa kecil kita. Yang paling lekat di
ingatan jarang berupa lantai yang mengilap. Yang teringat justru tumpukan
karung berisi padi yang tersusun
bertumpuk rapi, tumpukan koran punya kakaek di pojok ruang tamu, benang dan
jarum yang tertinggal di atas meja, atau kursi yang selalu ditarik ke tempat
yang sama karena itu posisi favorit seseorang.
Benda-benda kecil itu adalah sisa dari hari-hari yang dijalani dengan
penuh. Mainan yang tercecer menandakan masa kecil yang sedang dinikmati.
Tumpukan cucian yang belum terlipat menandakan keluarga yang sibuk beraktivitas
di luar. Piring-piring di bak cuci menandakan ada meja makan yang tadi ramai
oleh obrolan.
Bukan Pembenaran untuk Malas
Tentu saja, tulisan ini bukan ajakan untuk membiarkan rumah tak terurus
selamanya. Ada garis tipis antara berantakan karena hidup sedang bergerak dan
berantakan karena kita kewalahan. Merapikan tetap perlu, dan rumah yang nyaman
memang membuat pikiran lebih tenang.
Yang ingin dikatakan di sini lebih sederhana: jangan terlalu keras pada
diri sendiri. Kalau di penghujung hari ruang tamu tampak seperti habis dilewati
badai kecil, mungkin memang begitulah hari itu berlangsung. Ada tawa, ada
tergesa-gesa, ada kegiatan yang belum selesai karena hal lain yang lebih
penting datang menyela.
Melihat
dengan Cara Lain
Lain kali, saat kita menghela napas melihat kaus kaki di bawah meja atau
mainan yang berserakan di lantai, mungkin kita bisa berhenti sejenak. Sebelum
memungutnya, tanyakan: siapa yang meninggalkan ini, dan apa yang sedang ia
lakukan saat itu?
Sering kali jawabannya membuat kita tersenyum. Karena di balik setiap
benda yang tidak pada tempatnya, ada seseorang yang sedang menjalani harinya di
rumah yang sama dengan kita.
Dan suatu hari nanti, ketika rumah menjadi terlalu rapi dan terlalu
sunyi, barangkali kitalah yang paling merindukan kekacauan kecil itu.
Jadi, rapikan secukupnya. Biarkan sisanya menjadi tanda bahwa di rumah
ini, hidup sedang berjalan. Setuju ga? tapi bagi orang yang terbisa rapi dan
teratur saya yakin mereka ga setuju, hehe.
Komentar