Belajar Tenang dari Tanaman yang Tidak Pernah Tumbuh Terburu-buru




Ada sesuatu yang menarik dari tanaman. Ia tidak pernah tampak terburu-buru. Pagi datang, ia tetap di tempatnya. Matahari naik, ia tetap tumbuh dengan caranya sendiri. Ketika hujan turun, ia menerima air tanpa pernah merasa harus segera menjadi lebih besar. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan sering kali perubahan pada tanaman begitu kecil sampai-sampai kita tidak menyadarinya. Tiba-tiba suatu pagi muncul daun baru, tunas kecil di ujung batang, atau bunga yang sebelumnya belum ada. Kita kemudian menyadari bahwa selama ini tanaman itu ternyata terus tumbuh, hanya saja pertumbuhannya tidak selalu bisa kita lihat setiap hari.

Manusia justru sering hidup dengan cara yang berbeda. Kita ingin banyak hal terjadi lebih cepat. Baru mulai belajar, sudah ingin mahir. Baru memulai pekerjaan, ingin segera mendapatkan hasil. Baru menulis satu artikel, sudah ingin melihatnya terbit. Baru mengajukan penelitian, ingin segera mendapatkan kabar. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa tidak nyaman ketika sesuatu berjalan terlalu lambat. Pesan yang belum dibalas beberapa jam saja sudah membuat kita bertanya-tanya. Pekerjaan yang belum selesai membuat pikiran tetap bekerja bahkan ketika tubuh sudah berada di rumah. Kita seperti hidup dengan sebuah jam yang terus berbunyi di dalam kepala, mengingatkan bahwa masih ada sesuatu yang harus dikejar.  Mungkin karena itulah berkebun terasa berbeda. Ketika seseorang berdiri di depan tanaman dan menyiramnya, ia sebenarnya sedang berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa dipaksa. Kita boleh menyiram lebih banyak, tetapi tanaman belum tentu tumbuh lebih cepat. Kita bisa memberikan pupuk, mengganti media tanam, memindahkannya ke tempat yang lebih sesuai, tetapi tetap saja ada proses yang membutuhkan waktu. Ada batas biologis yang tidak bisa dinegosiasikan oleh keinginan manusia. Tanaman seolah mengajarkan bahwa pertumbuhan memiliki ritmenya sendiri.

Kita sering lupa bahwa manusia juga demikian. Tidak semua perkembangan dapat dilihat dalam hitungan hari. Ada masa ketika seseorang tampak tidak mengalami kemajuan apa-apa, padahal sebenarnya sedang belajar memahami dirinya sendiri. Ada mahasiswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan kepercayaan dirinya. Ada seseorang yang berkali-kali mencoba sebelum akhirnya menemukan cara yang tepat. Ada pula pekerjaan yang hasilnya baru terlihat setelah bertahun-tahun. Dari luar mungkin terlihat biasa saja, tetapi di dalamnya terjadi banyak proses yang tidak kelihatan.

Barangkali salah satu alasan kita mudah merasa tertinggal adalah karena kita terlalu sering membandingkan proses kita dengan hasil orang lain. Kita melihat seseorang yang sudah mencapai sesuatu, tetapi tidak melihat berapa lama ia menunggu sebelum sampai di sana. Kita melihat sebuah taman yang indah, tetapi tidak melihat tangan yang setiap pagi menyiram, memangkas, mengganti pot, membersihkan daun kering, dan merawat tanaman ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan. Kita melihat bunga yang mekar, tetapi lupa bahwa sebelum bunga itu muncul ada akar yang bekerja diam-diam di dalam tanah.

Begitu juga dalam kehidupan. Kita sering melihat keberhasilan seseorang sebagai sebuah peristiwa, padahal keberhasilan hampir selalu merupakan kumpulan dari proses-proses kecil yang berlangsung lama. Sebuah buku yang selesai ditulis sebenarnya dibangun dari halaman-halaman yang dikerjakan sedikit demi sedikit. Sebuah penelitian yang berhasil tidak muncul hanya karena satu hari kerja, tetapi dari berbagai kegagalan, revisi, membaca, berdiskusi, mengumpulkan data, dan mencoba lagi. Bahkan seseorang yang terlihat tenang dan matang dalam menghadapi masalah mungkin telah melewati banyak pengalaman yang membentuk ketenangan tersebut.

Sayangnya, kehidupan modern membuat kita semakin sulit menikmati proses. Kita terbiasa dengan sesuatu yang serba cepat. Makanan bisa datang hanya dengan beberapa sentuhan di layar. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Foto bisa diperbaiki dengan aplikasi. Tulisan dapat dibantu oleh teknologi. Banyak hal yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari sekarang dapat diselesaikan jauh lebih cepat. Kemudahan itu tentu saja membawa banyak manfaat, tetapi tanpa disadari juga membuat kita semakin tidak sabar terhadap hal-hal yang memang tidak bisa dipercepat.

Ada proses dalam kehidupan yang tidak bisa diselesaikan dengan tombol. Menjadi dewasa tidak bisa dipercepat. Membangun kepercayaan membutuhkan waktu. Memahami seseorang membutuhkan percakapan yang panjang. Menjadi ahli dalam sesuatu membutuhkan latihan. Menyembuhkan kekecewaan tidak cukup hanya dengan mengatakan kepada diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Begitu pula membangun kehidupan yang lebih tenang tidak dapat dilakukan dalam satu akhir pekan. Tanaman mengingatkan kita tentang hal tersebut dengan cara yang sangat sederhana. Ia tidak pernah merasa bersalah karena belum berbunga. Ia tidak membandingkan dirinya dengan tanaman di pot sebelah. Ia tidak merasa gagal hanya karena pertumbuhannya lebih lambat daripada tanaman lain. Ia hanya melakukan apa yang memang harus dilakukan: menerima cahaya, menyerap air dan nutrisi, menumbuhkan akar, menghasilkan daun, dan terus bertahan sesuai kemampuannya.

Tentu saja manusia tidak bisa hidup sesederhana tanaman. Kita memiliki target, tanggung jawab, kebutuhan ekonomi, pekerjaan, keluarga, dan berbagai tuntutan kehidupan lainnya. Terburu-buru pada situasi tertentu bahkan memang diperlukan. Ada pekerjaan yang memiliki tenggat waktu. Ada keputusan yang harus segera diambil. Ada kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Karena itu, persoalannya bukan apakah kita boleh bergerak cepat atau tidak. Persoalannya adalah apakah kita masih mampu membedakan antara sesuatu yang memang perlu dipercepat dan sesuatu yang sebenarnya hanya kita paksa untuk segera selesai karena kita tidak sabar menunggu.

Mungkin kita perlu belajar bahwa tidak semua keterlambatan adalah kegagalan. Tidak semua proses yang lambat berarti kita tidak produktif. Ada masa ketika pekerjaan yang paling penting justru tidak menghasilkan sesuatu yang bisa segera dipamerkan. Membaca, berpikir, mencoba, mengamati, beristirahat, memperbaiki kesalahan, dan menunggu waktu yang tepat mungkin tidak terlihat seperti pencapaian besar. Namun semuanya merupakan bagian dari pertumbuhan. Saya sering membayangkan tanaman yang berada di sudut halaman dan tidak terlalu diperhatikan. Hari ini kita menyiramnya, besok mungkin lupa. Beberapa hari kemudian kita melihatnya lagi dan ternyata ada daun baru. Daun itu tidak muncul karena tanaman bekerja lebih keras pada hari itu. Ia muncul karena proses yang berlangsung diam-diam sejak sebelumnya. Ada sesuatu yang tumbuh ketika kita tidak sedang melihatnya.

Mungkin kehidupan kita juga begitu. Ada hal-hal yang sebenarnya sedang tumbuh dalam diri kita, meskipun belum menghasilkan sesuatu yang bisa diukur. Kesabaran mungkin sedang tumbuh setelah kita melewati banyak situasi yang menguji. Kematangan mungkin sedang tumbuh setelah kita mengalami beberapa kegagalan. Pengetahuan mungkin sedang tumbuh dari buku-buku yang kita baca tanpa langsung menghasilkan sesuatu. Bahkan keberanian mungkin sedang tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. Karena itu, mungkin sesekali kita perlu berhenti bertanya, “Mengapa saya belum sampai?” dan menggantinya dengan pertanyaan yang lebih sederhana, “Apa yang sedang tumbuh dalam diri saya sekarang?” Pertanyaan kedua membuat kita melihat kehidupan dari sudut yang berbeda. Kita tidak lagi hanya mengejar hasil akhir, tetapi mulai memperhatikan proses yang sedang berlangsung.

Ada kepuasan tertentu ketika kita melihat tanaman yang sudah lama dirawat akhirnya mengeluarkan bunga. Bukan semata-mata karena bunganya indah, tetapi karena kita tahu ada waktu yang telah dilewati untuk sampai ke sana. Ada hari-hari ketika tanaman itu tampak biasa saja. Ada daun yang menguning. Ada ranting yang harus dipangkas. Ada masa ketika kita bahkan mungkin mengira tanaman itu tidak akan tumbuh lagi. Namun ternyata ia hanya membutuhkan waktu. Barangkali manusia juga membutuhkan ruang untuk seperti itu. Kita tidak harus selalu terlihat berkembang di mata orang lain. Tidak setiap hari harus menghasilkan pencapaian besar. Ada hari untuk bergerak cepat, ada hari untuk berjalan pelan, dan ada pula hari ketika kita hanya perlu memastikan bahwa diri kita tetap bertahan.

Tanaman tidak pernah terburu-buru menjadi pohon. Ia tidak pernah merasa bahwa pertumbuhannya terlalu lambat. Ia hanya tumbuh ketika waktunya tiba. Dari sana kita mungkin bisa belajar sesuatu yang sederhana tetapi penting: hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat. Ada banyak hal yang justru menjadi baik karena diberi waktu. Mungkin selama ini bukan tanaman yang terlalu lambat tumbuh. Barangkali kitalah yang terlalu terburu-buru melihat hasilnya. Dan mungkin, di antara kesibukan mengejar banyak hal, sesekali kita perlu duduk sebentar di dekat tanaman, memperhatikannya tanpa tujuan apa-apa, lalu mengingat bahwa sesuatu yang berharga tidak selalu harus tumbuh dengan cepat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

kenyang

es campur