AI Bisa Membantu Kita Menulis, tetapi Siapa yang Membantu Kita Berpikir?


Ada masa ketika menulis terasa seperti pekerjaan yang membutuhkan banyak waktu. Membuka laptop, menatap halaman kosong, mengetik beberapa kalimat, lalu menghapusnya lagi karena terasa tidak pas. Setelah itu mencoba menulis ulang, mencari referensi, menyusun paragraf, dan berkali-kali membaca kembali apa yang sudah ditulis. Sekarang semuanya terasa jauh lebih mudah.

Kita bisa meminta bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence untuk membuat kerangka tulisan, menyusun paragraf, mencari ide, memperbaiki bahasa, bahkan mengubah tulisan yang terlalu kaku menjadi lebih enak dibaca. Dalam beberapa detik, halaman yang tadinya kosong bisa dipenuhi beberapa paragraf. Bagi banyak orang, ini tentu menyenangkan. Pekerjaan menjadi lebih cepat. Ide yang semula terasa sulit dituangkan menjadi lebih mudah disusun. Bahkan bagi seorang dosen yang sehari-hari berhadapan dengan berbagai pekerjaan akademik, kehadiran AI terasa seperti memiliki seorang asisten yang selalu siap membantu.

Tetapi belakangan saya sering berpikir tentang satu hal sederhana; ‘Kalau AI semakin pandai membantu kita menulis, lalu siapa yang membantu kita berpikir?’.  Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya cukup penting. Sebab menulis dan berpikir bukanlah hal yang sama.

AI dapat membantu menyusun kalimat dengan sangat baik. Ia dapat membuat sebuah paragraf terdengar lebih akademik, lebih santai, lebih persuasif, atau lebih sederhana. Namun sebuah tulisan yang rapi belum tentu lahir dari pemikiran yang matang. Kita bisa saja memiliki tulisan yang sangat bagus, tetapi sebenarnya tidak tahu persis apa yang ingin kita katakan, nah di sinilah persoalannya.

 Ketika Menulis Menjadi Terlalu Mudah

Dulu, kesulitan menulis sering menjadi bagian dari proses berpikir. Ketika seseorang duduk cukup lama di depan halaman kosong, ia dipaksa bertanya kepada dirinya sendiri: sebenarnya apa yang ingin saya sampaikan? Kebuntuan kadang justru membantu. Ketika tidak tahu harus menulis apa, kita mencari informasi. Ketika menemukan informasi yang berbeda, kita membandingkan. Ketika menemukan pendapat yang bertentangan, kita mulai mempertanyakan kembali pemikiran sendiri. Dengan kata lain, proses menulis sering kali sekaligus menjadi proses berpikir. Sekarang proses itu dapat dipersingkat. Kita cukup mengetik beberapa kata dalam sebuah kotak perintah (prompt), kemudian AI membantu menyusun semuanya. Bahkan ketika kita belum sepenuhnya memahami gagasannya, AI sudah dapat membuatnya terlihat seperti sebuah pemikiran yang utuh. Di satu sisi, ini adalah kemajuan yang luar biasa, tapi di sisi lain, ada sesuatu yang perlu kita jaga., harus hati-hati kita. (jadi takut ya).

Jangan sampai kemudahan menulis membuat kita kehilangan kebiasaan berpikir. Sebab manusia tidak menjadi lebih cerdas hanya karena mampu menghasilkan lebih banyak tulisan. Kita menjadi lebih matang ketika mampu memahami apa yang kita tulis, mempertanyakan informasi yang kita terima, melihat persoalan dari berbagai sudut, dan mengambil kesimpulan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. AI dapat membantu mempercepat proses itu. Tetapi ia tidak seharusnya mengambil alih seluruh prosesnya.

 AI Bukan Pengganti Pikiran

Sebenarnya kita tidak perlu memandang AI sebagai musuh (galah ya..justru teman baik ya). AI bukan sesuatu yang harus ditolak hanya karena ia dapat menulis lebih cepat daripada manusia. Sama seperti kalkulator tidak membuat matematika menjadi tidak penting, kehadiran AI juga tidak seharusnya membuat kemampuan berpikir manusia menjadi tidak berguna. Justru sebaliknya. Semakin canggih alat yang kita gunakan, semakin penting kemampuan manusia untuk menentukan bagaimana alat tersebut digunakan. Bayangkan seseorang meminta AI menulis artikel tentang lingkungan. Dalam hitungan detik, mungkin akan muncul tulisan yang lengkap. Ada pembukaan, pembahasan, data, kesimpulan, bahkan rekomendasi.

Tetapi pertanyaan berikutnya tetap harus dijawab manusia. Apakah persoalan itu benar-benar penting?, Apakah data yang digunakan dapat dipercaya?, Apakah konteksnya sesuai dengan kondisi masyarakat yang sedang dibicarakan?, Apakah kesimpulannya masuk akal?, Apakah ada sudut pandang lain yang belum dimasukkan?, Dan yang paling sederhana: apakah tulisan itu benar-benar mewakili pikiran kita? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak selesai hanya karena sebuah tulisan sudah berhasil dibuat. Bahkan mungkin justru baru dimulai setelah tulisan selesai.

Yang Tidak Bisa Digantikan adalah Pengalaman

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita berbicara tentang AI: manusia tidak hanya berpikir menggunakan informasi. Manusia juga berpikir menggunakan pengalaman.

Seorang guru yang telah mengajar selama dua puluh tahun mungkin melihat sesuatu yang berbeda ketika membaca sebuah persoalan pendidikan. Seorang nelayan dapat membaca perubahan cuaca dari pengalaman yang tidak selalu tertulis dalam buku. Seorang ibu mungkin memahami perubahan kecil pada anaknya hanya dari cara anak itu menjawab sebuah pertanyaan. Semua itu adalah pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman panjang. AI memiliki kemampuan mengolah informasi dalam jumlah yang sangat besar. Tetapi pengalaman manusia memiliki dimensi yang berbeda. Ada ingatan, perasaan, kegagalan, keraguan, kebiasaan, lingkungan sosial, dan konteks kehidupan yang membentuk cara seseorang memahami sesuatu.

Karena itu, tulisan manusia yang baik bukan hanya tulisan yang memiliki kalimat indah. Ia memiliki jejak kehidupan. Mungkin hanya sebuah pengalaman kecil ketika melihat mahasiswa kesulitan memahami pelajaran. Mungkin percakapan singkat dengan seorang anak. Mungkin perjalanan melewati sungai yang airnya semakin keruh. Mungkin juga kegagalan yang membuat seseorang mengubah cara memandang sesuatu. Hal-hal semacam itu tidak selalu bisa ditemukan hanya dengan mencari informasi.

 Maka, Mungkin Kita Perlu Mengubah Cara Menggunakan AI

Barangkali persoalannya bukan apakah kita boleh menggunakan AI atau tidak. Persoalannya adalah bagaimana kita menggunakannya. Kita bisa meminta AI memberikan sepuluh ide tulisan, tetapi kita sendiri yang memilih ide mana yang benar-benar dekat dengan pengalaman kita. Kita bisa meminta AI membantu menyusun tulisan, tetapi kita tetap membaca setiap kalimatnya. Kita bisa meminta AI memperbaiki bahasa, tetapi kita tidak menyerahkan sepenuhnya suara kita kepadanya.

Kita bisa meminta AI memberikan berbagai sudut pandang, tetapi keputusan tentang apa yang benar, relevan, dan bermakna tetap berada pada manusia. Dengan cara seperti itu, AI bukan menjadi pengganti pikiran. Ia menjadi teman berpikir. Dan mungkin ini bentuk hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Bukan manusia melawan mesin, bukan pula manusia menyerahkan semuanya kepada mesin. Melainkan manusia menggunakan teknologi untuk memperluas kemampuan yang sudah dimilikinya.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar di era AI bukan lagi apakah mesin dapat menulis seperti manusia. Pertanyaannya justru lebih sederhana dan lebih dekat kepada kita: ‘ketika mesin semakin pandai menghasilkan kata-kata, apakah kita masih bersedia meluangkan waktu untuk menemukan pikiran kita sendiri?’. Sebab tulisan yang baik mungkin memang dapat dibantu oleh AI. Tetapi gagasan yang benar-benar kita yakini, pengalaman yang benar-benar kita jalani, dan cara kita memaknai kehidupan tetap harus tumbuh dari dalam diri kita sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

kenyang

es campur